Laman

Rabu, 15 Agustus 2012

Tinjauan Umum Tentang Antenatal Care


Pengertian
     Antenatal Care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan untuk memeriksakan keadaan ibu dan janinnya secara berkala yang diikuti dengan pengawasan antenatal. Pengawasan antenatal memberikan manfaat dengan ditemukannya berbagai kelainan yang menyertai kehamilan secara dini sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah dalam pertolongan persalinan. 17  

Tujuan Pemeriksaan Kehamilan
1)   Tujuan umum
     Menurunkan/mencegah kesakitan, serta kematian maternal dan perinatal.
2)   Tujuan khusus
(1)   Memonitor kemajuan kehamilan guna memastikan kesehatan ibu dan perkembangan bayi yang normal.
(2)   Mengenali secara dini penyimpangan dari normal dan memberikan penatalaksanaan yang diperlukan.
(3)   Membina hubungan saling percaya antara ibu dan bidan dalam rangka mempersiapkan ibu dan keluarga secara fisik, emosional, serta logis untuk menghadapi kelahiran dan kemungkinan adanya komplikasi. 18

Kebijakan Program
1)   Kunjungan antenatal
     Kunjungan antenatal untuk pemantauan dan pengawasan kesejahteraan ibu dan anak minimal empat kali selama kehamilan dalam waktu sebagai berikut :
(1)   Kehamilan trimester pertama (<14 minggu) satu kali kunjungan
(2)   Kehamilan trimester kedua (14-28 minggu) satu kali kunjungan
(3)   Kehamilan trimester ketiga ( 28-38 minggu dan sesudah minggu ke-36) dua kali kunjungan.
     Walaupun demikian, disarankan kepada ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya dengan jadwal sebagai berikut :
(1)   Sampai dengan kehamilan 28 minggu periksa empat minggu sekali
(2)   Kehamilan 28-36 minggu periksa dua minggu sekali
(3)   Kehamilan 36-40 minggu satu minggu sekali.
2)   Jadwal Kunjungan Ulang
(1)   Kunjungan I 16 minggu dilakukan untuk :
((1)) Persiapan dan pengobatan anemia
((2)) Perencanaan persalinan
((3)) Pengobatan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatan.
(2)   Kunjungan II (20-24 minggu) dan kunjungan III (32 minggu) dilakukan untuk :
((1)) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya
((2)) Persiapan preeklamsia, gemelli, infeksi alat reproduksi dan saluran perkemihan.
((3)) Mengulang perencanaan persalinan
(3)   Kunjungan IV (36 minggu sampai lahir) :
((1)) Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III
((2)) Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi
((3)) Memantapkan perencanaan persalinan
((4)) Mengenali tanda-tanda persalinan

3)   Pelayanan / Asuhan standar minimal termasuk “7T” :
(1)   Timbang berat badan
(2)   Ukur tekanan darah
(3)   Ukur tinggi fundus
(4)   Pemberian imunisasi Tetanus Toxoid (TT)
(5)   Pemberian tablet zat besi (minimal 90 tablet selama kehamilan)
(6)   Tes penyakit menular seksual
(7)   Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.

Kebijakan Teknis
     Setiap kehamilan dapat berkembang masalah atau komplikasi setiap saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan pemantauan selama kehamilan. Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen berikut:
1)   Mengupayakan kehamilan yang sehat
2)   Melakukan deteksi dalam komplikasi, melakukan penataksanaan awal serta rujukan bila diperlukan
3)   Persiapan persalinan yang bersih dan aman
Perencanaan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan bila terjadi komplikasi. 8

Tinjauan Umum Tentang Abortus Imminens


Pengertian
     Abortus imminens ialah proses awal dari suatu keguguran yang ditandai dengan perdarahan pervaginam, sementara ostium uteri eksternum masih tertutup dan janin masih baik intrauteri. 2

Etiologi
     Secara keseluruhan penyebab abortus sudah dijelaskan pada halaman depan dimana disebabkan oleh abnormalitas embrio atau janin, abnormalitas uterus, kerusakan pada serviks akibat robekan pada saat melahirkan, penyakit-penyakit maternal dan penggunaan obat, trauma, faktor-faktor hormonal, dan sebab-sebab psikosomatik. Penyebab ini berhubungan dengan abortus imminens yang pada  dasarnya sama dengan sebab-musabab abortus. 3

Diagnosis
1)   Perdarahan pada wanita hamil kurang dari 20 minggu, kadang disertai mules
2)   Uterus membesar sebagaimana usia kehamilan
3)   Serviks tidak membuka
4)   Tes kehamilan positif (+)
5)   Kram / nyeri abdomen bagian bawah
6)   Uterus lebih lunak dari normal. 2-16

Penanganan
1)   Tidak perlu pengobatan khusus atau tirah baring total.
2)   Jangan melakukan aktivitas fisik berlebihan atau hubungan seksual
3)   Jika perdarahan berhenti lakukan asuhan antenatal seperti biasa, lakukan penilaian jika perdarahan terjadi lagi. Jika perdarahan terus berlangsung nilai kondisi janin (uji kehamilan atau tes USG). 10

Konsep Dasar Tentang Abortus


Pengertian
     Banyak pengertian Abortus yang dirumuskan oleh para ahli berikut ini :
1)   Abortus adalah pengakhiran kehamilan dengan cara apapun sebelum janin cukup berkembang untuk dapat hidup diluar kandungan. 13
2)   Abortus adalah penghentian atau berakhirnya suatu kehamilan sebelum janin viable (dalam konteks ini, usia kehamilan 20 minggu). 3
3)   Abortus adalah keguguran, pengeluaran hasil konsepsi dari uterus sebelum janin viable, penghentian dini suatu proses alami atau penyakit, berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar dengan berat <500 g atau umur kehamilan <20 minggu. 14
4)   Abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin mampu bertahan hidup. 15
5)   Abortus adalah suatu proses berakhirnya suatu kehamilan, dimana janin belum mampu hidup diluar rahim (belum viable), dengan kriteria usia kehamilan <20 minggu atau berat janin <500 g. 2

     Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan dengan umur kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat badan kurang dari 500 gram.

Klasifikasi Abortus
     Menurut terjadinya abortus dibedakan atas :
1)   Abortus spontan
     Abortus spontan adalah penghentian kehamilan sebelum janin mencapai viabilitas (usia kehamilan 22 minggu). 10
     Abortus spontan terbagi atas :
(1)   Abortus Imminens (abortus mengancam) ialah proses awal dari suatu keguguran, yang ditandai dengan perdarahan pervaginam, sementara ostium uteri eksternum masih tertutup dan janin masih baik intrauterin.
(2)   Abortus Insipiens ialah proses abortus yang sedang berlangsung dan tidak lagi dapat dicegah, ditandai dengan terbukanya ostium uteri eksternum, selain perdarahan.
(3)   Abortus Inkomplit ialah proses abortus dimana sebagian hasil konsepsi telah keluar melalui jalan lahir.
(4)   Abortus Komplit ialah proses abortus dimana keseluruhan hasil konsepsi telah keluar melalui jalan lahir.

2)   Abortus infeksiosa
      Abortus infeksiosa adalah suatu abortus yang telah disertai komplikasi berupa infeksi, baik yang diperoleh dari luar rumah sakit (RS) maupun yang terjadi setelah tindakan di RS.
3)   Missed Abortion (retensi janin mati)
     Missed Abortion ialah berakhirnya suatu kehamilan sebelum 20 minggu, namun keseluruhan hasil konsepsi itu tertahan dalam uterus selama 6 minggu atau lebih. 2
4)   Unsafe Abortion (abortus tidak aman).
     Upaya yang terminasi kehamilan muda dimana pelaksana tindakan tersebut tidak mempunyai cukup keahlian dan prosedur standar yang aman sehingga dapat membahayakan keselamatan jiwa pasien.

Etiologi
     Hal yang dapat menyebabkan abortus :
1)   Abnormalitas embrio atau janin merupakan penyebab paling sering untuk abortus dini dan kejadian ini kerapkali disebabkan oleh cacat kromosom.
2)   Abnormalitas uterus yang mengakibatkan kelainan kavum uteri atau halangan terhadap pertumbuhan dan pembesaran uterus
3)   Kerusakan pada serviks akibat robekan yang dalam pada saat melahirkan atau akibat tindakan pembedahan (dilatasi, amputasi)
4)   Penyakit-penyakit maternal dan penggunaan obat, penyakit mencakup infeksi virus akut dan panas tinggi.
5)   Trauma, hubungan seksual khususnya kalau terjadi orgasme, dapat menyebabkan abortus pada wanita dengan riwayat keguguran yang berkali-kali.
6)   Faktor-faktor hormonal, misalnya penurunan sekresi progesteron diperkirakan sebagai penyebab terjadinya abortus pada usia kehamilan 10-12 minggu.
7)   Sebab-sebab psikosomatik, stress dan emosi yang kuat diketahui dapat mempengaruhi fungsi uterus lewat system hipotalamus-hipofise. 3

Patofisiologi
     Pada awal abortus terjadilah perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan disekitarnya hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi korialis belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan 8 - 14 minggu penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu daripada plasenta. 11

Diagnosis 10
1)   Nyeri abdomen bawah
2)   Nyeri lepas
3)   Uterus teraba lemas
4)   Perdarahan berlanjut
5)   Lemah-lesu
6)   Demam
7)   Sekret vagina berbau
8)   Sekret dan pus (nanah) dari serviks
9)   Nyeri goyang serviks

Penanganan Umum Abortus
1)   Lakukan penilaian awal untuk segera menentukan kondisi pasien (gawat darurat, komplikasi berat atau masih cukup stabil)
2)   Pada kondisi gawat darurat, segera upayakan stabilisasi pasien sebelum melakukan tindakan lanjutan (evaluasi medik atau merujuk)
3)   Penilaian medik untuk menentukan tindakan di fasilitas kesehatan setempat atau dirujuk ke rumah sakit.
4)   Bila pasien syok atau kondisinya memburuk akibat perdarahan hebat, segera atasi komplikasi tersebut.
5)   Gunakan jarum infus besar (ukuran16 G atau lebih besar) dan berikan tetesan cepat (500 ml dalam 2 jam pertama) larutan garam fisiologis atau Ringer Laktat.
6)   Periksa kadar Hb, golongan darah dan uji padanan-silang (crossmatch)
7)   Ingat : kemungkinan kehamilan ektopik pada pasien hamil mudah dengan syok berat.
8)   Bila terdapat tanda-tanda sepsis, berikan antibiotika yang sesuai.
9)   Temukan dan hentikan dengan segera sumber perdarahan
10)  Lakukan pemantauan ketat tentang kondisi pasca tindakan dan perkembangan lanjutan.

Senin, 13 Agustus 2012

Tinjauan Tentang Risiko Kejadian Mioma uteri


1.        Umur
Frekuensi kejadian mioma uteri paling tinggi antara usia 35-50 tahun yaitu mendekati angka 40%, sangat jarang ditemukan pada usia dibawah 20 tahun. Sedangkan pada usia menopause hampir tidak pernah ditemukan (Wiknjosastro, 2005). Pada usia sebelum menarche kadar estrogen rendah, dan meningkat pada usia reproduksi, serta akan turun pada usia menopause (Ganong, 2008). Pada wanita menopause mioma uteri ditemukan sebesar 10% (Jodosapoetro, 2005).
Wanita pada umur 30-an dan 40-an sering mengalami pertumbuhan fibroid. Namun begitu, sebanyak 30% dari seluruh wanita mengalami pertumbuhan fibroid apabila umur mereka mencapai 35 tahun. Dari hasil estimasi yang dilakukan, seramai 20% dari wanita kulit putih dan 50% dari wanita kulit hitam dengan usia di atas 30 tahun mengalami fibroid (Rosenthal, 2003).

2.        Riwayat Keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri mempunyai 2,5 kali kemungkinan untuk menderita mioma dibandingkan dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri (Parker, 2007).
3.        Indeks Massa Tubuh (IMT)
Satu studi prospektif dijalankan dan dijumpai kemungkinan risiko menderita mioma uteri adalah setinggi 21% untuk setiap kenaikan 10kg berat badan dan dengan peningkatan indeks massa tubuh. Temuan yang sama juga turut dilaporkan untuk wanita dengan 30% kelebihan lemak tubuh. Ini terjadi kerana obesitas menyebabkan peningkatan konversi androgen adrenal kepada estrogen dan menurunkan hormon sex-binding globulin. Hasilnya menyebabkan peningkatan estrogen secara biologikal yang bisa menerangkan mengapa terjadi peningkatan prevalensi mioma uteri dan pertumbuhannya (Parker, 2007).
Obesitas juga berperan dalam terjadinya mioma uteri. Hal ini mungkin berhubungan dengan konversi hormon androgen menjadi estrogen oleh enzim aromatase di jaringan lemak (Djuwantono, 2004).
Beberapa penelitian menemukan hubungan antara obesitas dan peningkatan insiden mioma uteri. Suatu studi di Harvard yang dilakukan oleh Dr. Lynn Marshall menemukan bahwa wanita yang mempunyai Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas normal, berkemungkinan 30,23% lebih sering menderita mioma uteri. Ros dkk, (1986) mendapatkan risiko mioma uteri meningkat hingga 21% untuk setiap 10 Kg kenaikan berat badan dan hal ini sejalan dengan kenaikan IMT (Djuwantono, 2004).
4.        Paritas
Mioma lebih sering terjadi pada wanita nullipara atau wanita yang hanya mempunyai 1 anak (Llewellyn, 2001). Parker mengemukakan bahwa semakin meningkatnya jumlah kehamilan maka akan menurunkan insidensi mioma uteri. Resiko terjadinya mioma uteri akan menurun dari 20%-50% dengan melahirkan minimal 1 orang anak. Dalam penelitiannya, Chen menemukan bahwa resiko menurun hingga 70% pada wanita yang melahirkan 2 anak atau lebih (Victory, 2006).
Wanita yang sering melahirkan lebih sedikit kemungkinannya untuk terjadinya perkembangan mioma ini dibandingkan wanita yang tidak pernah hamil atau satu kali hamil. Statistik menunjukkan 60% mioma uteri berkembang pada wanita yang tidak pernah hamil atau hanya hamil satu kali (Schorge et al., 2008).
Dari penelitian yang dilakukan Hafiz et al di Nisthar hospital Multan Pakistan mengemukakan bahwa mioma uteri terjadi pada 74 % pasien dengan paritas 1-5 (multipara) dan 13 % pasien dengan paritas 0 (nulipara), dengan kata lain sebagian besar mioma uteri terjadi pada pasien dengan multipara (Hafiz et al, 2003).
Angka kejadian mioma uteri bervariasi dari hasil penelitian yang pernah dilakukan ditemukan sebesar 0,3%-7,2% selama kehamilan. Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar estrogen dalam kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus (Scott, 2002). Kedua keadaan ini ada kemungkinan dapat mempercepat pembesaran mioma uteri (Manuaba, 2003).
5.        Makanan
Dari beberapa penelitian yang dilakukan menerangkan hubungan antara makanan dengan prevalensi atau pertumbuhan mioma uteri. Dilaporkan bahwa daging sapi, daging setengah matang (red meat), dan daging babi menigkatkan insiden mioma uteri, namun sayuran hijau menurunkan insiden mioma uteri. Tidak diketahui dengan pasti apakah vitamin, serat atau phytoestrogen berhubungan dengan mioma uteri (Parker, 2007).

Tinjauan Umum Tentang Mioma Uteri


1.        Definisi Mioma Uteri

Mioma uteri, dikenal juga dengan sebutan fibromioma, fibroid, atau leiomioma merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot polos uterus dan jaringan ikat yang menumpanginya. Mioma uteri berbatas tegas, tidak berkapsul, dan berasal dari otot polos jaringan fibrous sehingga mioma uteri dapat berkonsistensi padat jika jaringan ikatnya dominan, dan berkonsistensi lunak jika otot rahimnya yang dominan (Sozen, 2000).
Mioma Uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat sehingga dalam kepustakaan disebut juga leiomioma, fibromioma, atau fibroid. (Mansjoer. A, 2001)
Mioma merupakan tumor yang paling umum pada traktus genitalis. Mioma uteri dikenal juga dengan sebutan fibromioma, fibroid, atau leiomioma merupakan neoplasma jinak. Mioma terdiri atas serabut-serabut otot polos yang dikelingi dengan untaian jaringan ikat, dan dikelilingi oleh kapsul yang tipis (Llewellyn, Jones, 2001).
Mioma uterus yang disebut juga fibromioma uterus, leiomioma uterus, atau uterin fibroid, adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot polos dinding uterus (Jong, 2005).
Mioma uteri merupakan tumor jinak miometrium dengan ciri tersendiri, bulat, keras, berwarna putih hingga merah muda pucat, sebagian besar terdiri dari otot polos dengan beberapa jaringan ikat (Benson, 2009).
2.        Klasifikasi
Berdasarkan lapisan uterus yang terkena mioma uteri menurut Nurana (2007) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a.         Mioma submukosa, adalah mioma uteri yang terdapat di lapisan mukosa uterus dan tumbuh ke arah kavum uterus, mioma submukosum ini dapat pula bertangkai dan keluar ke vagina melalui kanalis servikalis yang disebut myomageburt.
b.         Mioma intramural, adalah mioma uteri yang terdapat di dalam dinding uterus (lapisan miometrium).
c.         Mioma subserosa, adalah mioma uteri yang terdapat di lapisan serosa uterus dan tumbuh kearah rongga peritonium, mioma subserosa dapat pula bertangkai yang disebut mioma pedunkularis (peduncullated), dan apabila terlepas dari induknya dan berjalan-jalan atau dapat menempel dalam rongga peritoneum disebut wandering/parasitic fibroid.
3.        Etiologi Mioma Uteri
Etiologi pasti belum diketahui, tetapi terdapat korelasi antara pertumbuhan tumor dengan peningkatan reseptor estrogen-progesteron pada jaringan mioma uteri, serta adanya faktor predisposisi yang bersifat herediter dan faktor hormon pertumbuhan dan Human Placental Lactogen. Para ilmuwan telah mengidentifikasi kromosom yang membawa 145 gen yang diperkirakan berpengaruh pada pertumbuhan fibroid. Beberapa ahli mengatakan bahwa mioma uteri diwariskan dari gen sisi paternal. Mioma biasanya membesar pada saat kehamilan dan mengecil pada saat menopause, sehingga diperkirakan dipengaruhi juga oleh hormon-hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron. Selain itu juga jarang ditemukan sebelum menarke, dapat tumbuh dengan cepat selama kehamilan dan kadang mengecil setelah menopause (Hart, 2000).
4.        Patofisiologi
Patofisiologi mioma uteri menurut Manuaba (2003), dapat diikuti sebagai berikut:
a.         Setiap konfigurasi mulai dari satu sel monoklonal, yang menunjukkan kelainan kromosom multipel.
b.         Setiap sel mengandung reseptor estrogen dan progesteron.
c.         Transformasi neoplasma sel otot polos uterus dipengaruhi oleh:
1)        Komposisi estrogen dan progesteron
2)        Faktor pertumbuhan lokal:
a)    Epidermal growth factor
b)   Insulin-like growth factor
c)    Platelet derived growth factor
d.        Mioma uteri tidak dapat dijumpai sebelum menarche dan mengecil setelah menopause
e.         Rangsangan estrogen dan progesteron secara teratur mengakibatkan pertumbuhan mioma uteri yang bersifat, berlapis seperti berambang atau
konfigurasi gulungan.
f.          Di antara gabungan lapisan otot polos terdapat berbagai variasi jaringan ikat yang menimbulkan variasi konsistensi mioma uteri
5.        Gejala Mioma Uteri
Keluhan yang diakibatkan oleh mioma uteri sangat tergantung dari lokasi, arah pertumbuhan, jenis, besar dan jumlah mioma. Hanya dijumpai pada 20-50% saja mioma uteri menimbulkan keluhan, sedangkan sisanya tidak mengeluh apapun. Hipermenoroe, menometroragia adalah merupakan gejala klasik dari mioma uteri. Dari penelitian multisenter yang dilakukan pada 114 penderita ditemukan 44% gejala perdarahan, yang paling sering adalah jenis mioma submukosa, sekitar 65% wanita dengan mioma mengeluh dismenoroe, nyeri perut bagian bawah, serta nyeri pinggang. Tergantung dari lokasi dan arah pertumbuhan mioma, maka kandung kemih, ureter, dan usus dapat terganggu, dimana peneliti melaporkan keluhan disuri (14%), keluhan obstipasi (13%). Mioma uteri sebagai penyebab infertilitas hanya dijumpai pada 2-10% kasus. Infertilitas terjadi sebagai akibat obstruksi mekanis tuba falopii. Abortus spontan dapat terjadi bila mioma uteri menghalangi pembesaran  uterus, dimana  menyebabkan kontraksi  uterus  yang  abnormal, dan mencegah terlepas atau tertahannya uterus di dalam panggul (Goodwin, 2009).
6.        Diagnosis Mioma Uteri
a.         Anamnesis
Dalam anamnesis dicari keluhan utama serta gejala klinis mioma lainnya, faktor risiko serta kemungkinan komplikasi yang terjadi. Biasanya teraba massa menonjol keluar dari jalan lahir yang dirasakan bertambah panjang serta adanya riwayat pervaginam terutama pada wanita usia 40-an. Kadang juga dikeluhkan perdarahan kontak (Hart, 2000).
b.         Pemeriksaan Fisik
Mioma uteri mudah ditemukan melalui pemriksaan bimanual rutin uterus. Diagnosis mioma uteri menjadi jelas bila dijumpai gangguan kontur uterus oleh satu atau lebih massa yang licin, tetapi sering sulit untuk memastikan bahwa massa seperti ini adalah bagian dari uterus.
c.         Pemeriksaan penunjang
1)        Temuan Laboratorium
Anemia merupakan akibat paling sering dari mioma. Hal ini disebabkan perdarahan uterus yang banyak dan habisnya cadangan zat besi. Kadang-kadang mioma menghasilkan eritropoetin yang pada beberapa kasus menyebabkan polisitemia. Adanya hubungan antara polisitemia dengan penyakit ginjal diduga akibat penekanan mioma terhadap ureter yang menyebabkan peninggian tekanan balik ureter dan kemudian menginduksi pembentukan eritropoietin ginjal.
2)        Imaging
a)         Pemeriksaan dengan USG (Ultrasonografi) transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam menetapkan adanya mioma uteri. Ultrasonografi transvaginal terutama bermanfaat pada uterus yang kecil. Uterus atau massa yang paling besar baik diobservasi melalui ultrasonografi transabdominal. Mioma uteri secara khas menghasilkan gambaran ultrasonografi yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun pembesaran uterus.
b)        Histeroskopi digunakan untuk melihat adanya mioma uteri submukosa, jika mioma kecil serta bertangkai. Mioma tersebut sekaligus dapat diangkat.
c)         MRI ( Magnetic Resonance Imaging ) sangat akurat dalam menggambarkan jumlah, ukuran, dan likasi mioma tetapi jarang diperlukan. Pada MRI, mioma tampak sebagai massa gelap berbatas tegas dan dapat dibedakan dari miometrium normal. MRI dapat mendeteksi lesi sekecil 3 mm yang dapat dilokalisasi dengan jelas, termasuk mioma (Goodwin, 2009).



7.        Penatalaksanaan Mioma Uteri
a.         Konservatif
Penderita dengan mioma kecil dan tanpa gejala tidak memerlukan pengobatan, tetapi harus diawasi perkembangan tumornya. Jika mioma lebih besar dari kehamilan 10-12 minggu, tumor yang berkembang cepat, terjadi torsi pada tangkai, perlu diambil tindakan operasi.
b.         Medikamentosa
Terapi yang dapat memperkecil volume atau menghentikan pertumbuhan mioma uteri secara menetap belum tersedia pada saat ini. Terapi medikamentosa masih merupakan terapi tambahan atau terapi pengganti sementara dari operatif.
Preparat yang selalu digunakan untuk terapi medikamentosa adalah analog GnRHa (Gonadotropin Realising Hormon Agonis), progesteron, danazol, gestrinon, tamoksifen, goserelin, antiprostaglandin, agen-agen lain seperti gossypol dan amantadine (Verala, 2003).
c.         Operatif
Pengobatan operatif meliputi miomektomi, histerektomi dan embolisasi arteri uterus.
1)             Miomektomi, adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus. Tindakan ini dapat dikerjakan misalnya pada mioma mioma submukosa pada mioma geburt dengan cara ekstirpasi lewat vagina.
2)             Histerektomi, adalah pengangkatan uterus, yang umumnya tindakan terpilih. Histerektomi total umumnya dilakukan dengan alasan mencegah akan timbulnya karsinoma servisis uteri.
3)             Embolisasi arteri uterus (Uterin Artery Embolization / UAE), adalah injeksi arteri uterina dengan butiran polyvinyl alkohol melalui kateter yang nantinya akan menghambat aliran darah ke mioma dan menyebabkan nekrosis. Nyeri setelah UAE lebih ringan daripada setelah pembedahan mioma dan pada UAE tidak dilakukan insisi serta waktu penyembuhannya yang cepat (Swine, 2009).
d.        Radiasi dengan radioterapi
Radioterapi dilakukan untuk menghentikan perdarahan yang terjadi pada beberapa kasus.